Juli 2015 Karanganyar Mendapat Bagian Grojogan Sewu

Dishubkominfo
Wakil Bupati Karanganyar Rohadi Widodo menyampaikan sambutan pada kunker Komisi B dan D DPRD Kab.Kudus

Menteri Kehutanan Republik Indonesia Zulkifli Hasan di era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, penyerahan Grojogan Sewu Tawangmangu secara de facto sebagai TWA (Taman Wisata Alam) yang kemudian kita tindaklanjuti secara administratif di Pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya. Dari kementerian tersebut mendatangkan tim independen yang pada akhirnya Kabupaten Karanganyar bekerjasama dengan Provinsi akan mendapatkan bagian pendapatan dari Grojogan Sewu yang memang berlokasi di wilayah Karanganyartepatnya di daerah wisata Tawangmangu, yang selama ini Karanganyar tidak mendapatkan apa-apa dari potensi wisata tersebut bahkan hanya mendapatkan sisa-sisa kotoran/sampah dari para pengunjung wisata Grojogan Sewu milik Perhutani yang dikelola oleh PT. Duta Indonesia Jaya.

“ Mulai 15 juli 2015, Karanganyar akan mendapat bagian dari pengelolaan Grojogan Sewu, meskipun hanya dari retribusi Rp. 2000,-/tiket masuk untuk hari Senin-Sabtu dan Minggu/hari libur Rp. 7500,- dan itu lumayan untuk peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Karanganyar, yang memang kita perjuangkan terus selama ini,” terang Wakil Bupati Karanganyar Rohadi Widodo saat menjelaskan upaya Pemkab Karanganyar untuk mendapatkan bagi hasil dari potensi wisata Grojogan Sewu tersebut saat menerima kunjungan kerja Komisi B dan D DPRD Kab. Kudus, Rabu (24/06) di Ruang Podang II Setda Karanganyar.

Lebih lanjut terkait dengan potensi wisata PurbakalaMuseum Dayu milik Perhutani yang berada di wilayah Karanganyar tepatnya daerah Gondangrejo, Karanganyar mendapatkan bagian 60 persen dan 40 persen untuk Purbakala.

Pada kesempatan tersebut disampaikan pula mengenai pemberian dana hibah yang sekarang sudah tidak bisa diberikan. “ Tahun kemarin kita masih bisa memberikan bantuan kepada KUBE (Kelompok Usaha Bersama) yang ada di wilayah Karanganyar, masing-masing mendapat sepuluh juta rupiah. Untuk tahun ini dana hibah tidak bisa diberikan kecuali untuk peribadatan dan pendidikan. Karena bantuan bukan bentuk uang melainkan wujud barang, seperti contohnya bantuan untuk pengerajin batik kayu, kita membantu memberikan alat-alat yang dibutuhkan,” terang Rohadi Widodo. (ind/ft)