Parade Dalang Cilik, Wujud Pelestarian Budaya

Penampilan dari Henokh Mbabar Wangsit dengan judul cerita Jarasandha Takon Bapa pada Parade Dalang Cilik Tahun 2015, Kamis (28/05)

Penampilan dari Henokh Mbabar Wangsit dengan judul cerita Jarasandha Takon Bapa pada Parade Dalang Cilik Tahun 2015, Kamis (28/05)

Karanganyar, Kamis (28/05/2015)
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mengadakan Parade Dalang Cilik sebagai upaya pelestarian budaya lokal. Kegiatan tersebut telah diadakan sebanyak dua kali yakni tahun 2014 dan 2015.
Bupati Karanganyar Juliyatmono mengatakan, ini merupakan wujud pelestarian budaya yang mempunyai nilai tinggi. Wayang juga membentuk karakter dan kecerdasan.
“Salah satu cara dengan mengadakan Parade Dalang Cilik seperti ini, dan terus mensosialisikan dengan cara mementaskan wayang kulit,” jelas Bupati Juliyatmono, saat memberikan sambutan pembukaan, di Kantor Tourist Information Center (TIC), Eks Kawedanan Karangpandan, Kecamatan Karangpandan, Kamis (28/05).
Di hadapan ratusan ana-anak Sekolah Dasar yang melihat pementasan tersebut, Bupati Karanganyar juga mengharapkan jangan sampai anak-anak tidak mencintai budaya sendiri.
“Orang tua hendaknya mengenalkan budaya tradisonal lokal kepada anak sejak dini. Walaupun tidak bisa memainkan wayang, anak-anak hanya suka melihat pementasan wayang kulit saja sudah bagus,” katanya.
Lebih lanjut, dia mengatakan Pemkab Karanganyar mempunyai program dan kepedulian melestarikan budaya tersebut dan menjadi bagian penting membangun watak bangsa.
“Sungguh ironi jika orang jawa tidak suka wayang, maka kita mengambil cara untuk melestarikan budaya itu dengan setiap tahun diadakan Parade Dalang Cilik seperti ini,” ujarnya.
Ditempat yang sama, Ki Manteb Sudarsono juga mengatakan hal senada dengan adanya acara tersebut berarti ada kepedulian terhadap seniman dalang.
“Ini upaya menghasilkan generasi penerus, dan tentunya dalang-dalang juga senang karena ada kepedulian dari Pemkab Karanganyar,” kata dalang yang baru saja pentas di Thailand.
Pentas pada tahun ini diikuti sebanyak 19 dalang cilik dari Kabupaten Karanganyar. Setiap dalang diberi waktu sekitar 25 menit untuk memainkan wayang sesuai cerita yang dimainkan.
Terdapat nama-nama yang sudah cukup terkenal seperti Fajri Nursalim memainkan judul cerita Wisanggeni Lahir, Dhimas Saddam Saputro dengan lakon Wahyu Pakuningrat, Canggih Tri Atmojo Krisno dengan lakon Adon-adon Rajamala, dan dalang perempuan Difa Setiandara Rara Ramadhani mengambil judul Kangsa Adu Jago. pd