DISNAKKAN Temukan Kambing Kurban Belum Layak Jual

Karanganyar, Kamis (02/10/2014)

Petugas dari Dinas Peternakan dan perikanan (Disnakan) Kabupaten Karanganyar saat memeriksa kelayakan kambing kurban, disepanjang jalan Papahan, Rabu (01/10) pagi.

Petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Karanganyar saat memeriksa kelayakan kambing kurban, di sepanjang jalan Papahan, Rabu (01/10) pagi.

Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Karanganyar menemukan hewan kurban jenis kambing yang belum layak dari sisi umur dijual oleh warga. Hal ini diketahui saat tim pengawas lapangan Disnakan saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak), Rabu (01/10).

Selain itu, petugas juga mendapati hewan kurban sakit. Kondisi hewan kurban itu diperkirakan lantaran lokasi di mana kambing itu dijajakan kurang layak. Harusnya, hewan ditempatkan di kandang atau lokasi teduh. Namun, saat ini hewan hanya ditempatkan di tepi jalan yang panas.

“Dari dua lokasi yang dipantau, sudah ada 13 ekor kambing belum layak dijual untuk kurban. Meski tidak layak, namun ternyata hewan tersebut sudah banyak yang laku,” katanya Staf Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakkan Karanganyar, Faturrahman.

Dilanjutkannya, lokasi yang dijadikan tempat sidak tidak berada di pasar melainkan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Lawu di wilayah Jaten, Karanganyar Kota, Tasikmadu, Jalan Adi Sucipto, dan Adi Soemarmo Colomadu.

Hewan yang layak menurut Faturrahman minimal berusia dua tahun dan terlihat giginya. Bagi kambing yang belum memenuhi syarat tersebut, Disnakkan meminta para pedagang tidak menjualnya. “Kambing harus berusia minimal dua tahun dan terlihat giginya,” lanjut dia. Faturrahman menambahkan petugas juga menemukan kambing berpenyakit mata yang langsung ditangani di lokasi dengan mengoleskan salep dan cairan obat mata.

Salah seorang PKL yang menawarkan kambing di Jalan Lawu Papahan, Mario, menuturkan penjualan jelang Idul Adha cukup bagus. Sekitar tiga sampai empat ekor kambing asal peternakan Wuryantoro, Wonogiri ini laku terjual tiap hari.

“Paling mahal mencapai Rp 3,1 juta per ekor. Tentu saja yang bagus dan beratnya sampai setengah kuintal. Kalau ukuran biasa, paling murah Rp 1,8 juta per ekor,” kata dia.

Ditanya mengenai lokasi penjualan, dia menyatakan tepi jalan lebih cocok lantaran banyak orang yang melintas dan dimungkinkan bisa terjual lebih banyak dibandingkan menjual di kampung. “Sebagian pembeli menitipkan dulu kambingnya i sini sampai menjelang Idul Adha. Setelah itu, hewan-hewan itu baru diambil,” katanya. pd