Dalang Cilik Pentas 14 Jam Nonstop

Karanganyar, Rabu (18/06/2014)

Salah satu aksi dalam parade 16 dalang cilik wayang kulit, Rabu (18/06) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar.

Salah satu aksi dalam parade 16 dalang cilik wayang kulit, Rabu (18/06) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar.

Aksi dalang cilik yang dikemas dalam dua beber menyajikan cerita wayang kulit dengan durasi 14 jam. Acara yang diikuti sebanyak 16 dalang cilik dari berbagai usia terlihat memukau para penonton. Parade itu yang diikuti dari tiga anak usia Taman Kanak-kanak (TK), enam siswa SD, lima siswa SMP, dan dua siswa SMA itu digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Rabu (18/06) pagi.

Mereka menampilkan cerita pewayangan yang berbeda-beda, ada yang mengambil lakon seperti Kangsa Adu Jago, Anoman Duto, Cupu Manik Astagina, Dewa Ruci, Kumbakarna Gugur, maupun Pandawa Syukur.

Dari ke-16 dalang cilik tersebut, terdapat Difa Setiandra Rara Rahmadani. Dia adalah dalang cilik perempuan yang masih menuntut ilmu di SD Negeri 11 Ngringo, Jaten. Selain itu terdapat juga dalang yang masih belajar di bangku SMP, yakni Anggit Laras Prabawa. Dalam daftar dalang cilik itu juga tercatat nama Dhimas Sadam Saputro. Sosok bocah laki-laki yang mengenakan busana beskap dan blangkon itu sudah memiliki prestasi dalam bidang pewayangan. Terbukti, dirinya berhasil menyabet predikat Penyaji Terbaik I Festival Dalang Cilik Tingkat Nasional 2014 yang diadakan Universitas Negeri Yogyakarta, Selasa-Kamis (06-08/05/2014) kemarin. Dalam lomba itu, dia melakonkan wayang dengan durasi 45 menit,.

Ketua Panitia Parade Dalang Cilik 2014, Sarno menuturkan kegiatan ini diselenggarakan untuk menggali potensi anak terhadap seni budaya khususnya pedalangan wayang kulit. Dirinya mencatat ada tiga sanggar seni pedalangan di Kabupaten Karanganyar yakni Sarutama, Ngestibudaya, dan Bima. “Dalam parade ini dipilih kategori dalang terampil, komunikatif, wijang, cucut, dan berbakat,” ucap Sarno di sela-sela acara.

Di tempat yang sama, Bupati Karanganyar Juliyatmono mengapresiasi acara tersebut. Dia beranggapan kesenian wayang kulit harus dilestarikan bahkan di kalangan anak usia dini. “Selain menampilkan keterampilan dalam hal pedalangan, acara ini bisa juga digunakan untuk melestarikan budaya daerah. Dan ternyata, antusias para pedalang cilik sangat tinggi. Terbukti ada 16 dalang cilik yang pentas di sini,” katanya. Dirinya yakin di luar area pentas ini, masih ada dalang cilik yang memiliki bakat dan keterampilan. pd