Adat Mondosiyo, Serunya Berebut Ayam

Karanganyar, Kamis (12/06/2014)

Rebutan ayam, acara yang menarik saat adat tradisi Mondosiyo, di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu

Rebutan ayam, acara yang menarik saat adat tradisi Mondosiyo, di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu

Upacara adat Mondosiyo sudah ada sejak puluhan tahun. Bagi masyarakat lereng Gunung Lawu di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu merupakan tradisi turun temurun sebagai ungkapan rasa syukur kelahiran dusun, Selasa (12/06) sore.
Atraksi menarik reog Ponorogo dari tiga kelompok Gembong Lawu, Singo Pancot Mulyo, dan Singo Gilang menandai dimulainya adat tradisi yang didatangi ribuan orang. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan menyiram air tape di situs Batu Gilang setelah diambil dari Punden Bale Patokan.
Sesaat setelah itu, acara menjadi menarik. Ratusan warga mulai mendekat dan mengepung joglo Balai Pasar Pancot yang terletak ditengah dusun. Mereka dengan serius mengamati atap joglo untuk menangkap belasan ayam. Hewan unggas itu sengaja dilempar di atas atap untuk diperebutkan jika turun. Berbagai usaha dilakukan agar bisa menangkap ayam itu tanpa menaiki atap rumah. Sorak sorai bergemuruh menambah keramaian. Mereka hanya boleh berpegangan pada pinggir atap saat mencoba menangkap ayam itu.
Dalam adat Mondosiyo, ayam-ayam itu diberikan pemilik sebagai nazar atas keberhasilan yang diraih dengan menyerahkan dua ekor ayam. Namun bagi warga yang berhasil menangkap ayam tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi, tetapi hanya dipelihara.
Seperti halnya yang dilakukan Harno, warga Dusun Pancot mempunyai nazar bila mempunyai anak.”Keinginan ini jika istri melahirkan seorang anak laki-laki,” kata Harno.
Kepala Lingkungan (Kaling) Dusun Pancot, Sulardiyanto menuturkan, upacara adat Mondosiyo yang diadakan setiap tujuh bulan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur. Tradisi ini diselenggarakan setiap Selasa kliwon wuku Mondosiyo. pd