Banyak Rumah Tangga Manfaatkan Pelayanan Tradisional

Karanganyar, Kamis (05/06/2014)

Pelayanan kesehatan tradisional makin diminati warga

Pelayanan kesehatan tradisional makin diminati warga

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 sebanyak 30,4 persen rumah tangga di Indonesia memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional diantaranya 77,8 persen rumah tangga memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional tanpa alat, dan 49 persen rumah tangga dengan ramuan.
Kepala Badan Litbangkes Kemenkes, Tjandra Yoga Aditama, menuturkan pelayanan kesehatan tradisional ramuan dikenal luas di Indonesia sebagai jamu dan secara empiris digunakan dalam upaya promotif, preventif bahkan selanjutnya berkembang ke arah kuratif dan paliatif.
“Indonesia secara konsisten mengangkat kesehatan tradisional ke dalam Sistem Kesehatan Nasional. Saat ini telah ada regulasi dan kebijakan mengenai pengobatan tradisional,” kata Tjandra Yoga Aditama, usai membuka Simposium Internasional bertema Tanaman Obat dan Obat Tradisional di Tawangmangu, Rabu (04/06) siang.
Dia menambahkan, Peraturan Menteri Kesehatan No 003 tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu yang antara lain mengatur penyediaan data dan informasi tentang jamu mendukung Jamu Evidence Based Decision Making dalam upaya pengintegrasian jamu dalam pelayanan kesehatan.
“Program saintifikasi jamu mencakup etnofarmakologi, formulasi, pre klinik dan klinik. Jamu saintifik digunakan untuk terapi komplomenter di fasilitas pelayanan kesehatan dan dijadikan pilihan masyarakat jika menginginkan untuk mengonsumsi jamu saja sebagai subyek dalam preventif, promotif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif,” ujarnya.
Saat ini, telah tersedia dua jamu saintifik, yakni untuk hipertensi ringan dan asam urat. Tahun 2014 ini rencananya akan diperoleh tambahan tiga jamu saintifik, yakni osteoartritis, haemorroid dan dispepsia.
“Ada 24 formula jamu untuk menjadi kandidiat formula jamu saintifik, yaitu 19 jamu untuk klinik pre kost dan formula jamu untuk uji klinik multicenter,” tandasnya.pd