Dalang Cilik Meriahkan Hardiknas

Aksi dalang cilik

Aksi dalang cilik

Karanganyar, Sabtu (03/05/2014). Peringatan malam tasyakuran peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) terlihat meriah. Hal itu karena dipentaskan wayang kulit dengan menampilkan empat dalang cilik. Mereka merupakan siswa dari berbagai Sekolah Dasar maupun SMP di Kabupaten Karanganyar.

Seperti halnya dalang cilik yang bernama Fadri Nursalim, merupakan siswa SD Negeri 2 Lalung, sedangkan Alen Restu sebagai murid di SD Negeri 1 Karanganyar membawakan cerita Gatotkaca Jedi, dan Dimas Sadham Saputra, sebagai murid di SD Negeri 1 Popongan, membawakan lakon Dewaruci . Sedangkan yang duduk di bangku SMP yakni Ki Anggit Laras Prabowo, dari SMP 1 Jumantono mengambil judul Bima Meguru.

Mereka tampil satu persatu dengan membawakan cerita wayang yang berbeda-beda. Dalang yang paling kecil yaitu Fadri Nursalim mengambil lakon Anoman Duto terlihat mahir memainkan wayang, bahkan kelucuan saat di goro-goro banyak penonton orang dewasa maupun anak-anak yang tertawa.

Agar bisa mahir mendalang, mereka dengan tekun berlatih di Mangkunegaran, Surakarta maupun di sanggar seni di Kabupaten Karanganyar. “Biasanya latihan sabetan, catur, maupun laras gamelan,” kata pelatih dalang cilik Ki Waluyo Notocarito, saat ditemui disela-sela tasyakuran Hardiknas, di SD Negeri 4 Bejen, Jumat (02/05) malam.

Keinginan menjadi dalang tentunya dimulai dari kemauan maupun bakat dari diri masing-masing. Ki Waluyo Niticarito lebih lanjut menjelaskan, kalau Ki Anggit Prabowo sudah terlihat bakatnya sejak masih TK (Taman Kanak-Kanak). Kemudian dari dorongan orang tua, dia diminta untuk memperdalam seni wayang kulit. “Rata-rata mereka bisa memainkan sebuah lakon dalam satu jam, namun ada juga yang sudah sampai pukul 02.00 malam,” imbuhnya.

Ki Waluyo mengharapkan dengan adanya seni wayang kulit yang dipelajari sejak kecil nantinya tidak akan punah karena merupakan karya yang adiluhung. Di Kabupaten Karanganyar terdapat 24 pedalang cilik yang rata-rata masih SD dan tersebar di berbagai Kecamatan.

Bupati Karanganyar Juliyatmono saat menghadiri acara tersebut mengungkapkan hal yang sama.”Dengan adanya pelestarian budaya tradisional seperti ini, dapat membentengi masing-masing pribadi dari arus globalisasi dengan tidak menghilangkan ciri khas nilai tradisi masing-masing daerah,” tandasnya.pd