Seniman Mancanegara Ramaikan Srawung Seni Sukuh

Puluhan seniman mancanegara dan lokal ikut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh ke 10 yang berlangsung selam dua hari, Selasa (31/12) dan Rabu (01/01) di pelataran Candi Sukuh, Karanganyar.

Puluhan seniman mancanegara dan lokal ikut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh ke 10 yang berlangsung selama dua hari, Selasa (31/12) dan Rabu (01/01) di pelataran Candi Sukuh, Karanganyar.

Karanganyar, Kamis (02/01/2014).

Puluhan seniman mancanegara dan lokal ikut meramaikan gelaran Srawung Seni Sukuh ke 10 selama dua hari, Selasa (31/12) dan Rabu (01/01). Kegiatan yang merupakan pentas seni yang dilakukan di pelataran Candi Sukuh, Kabupaten Karanganyar  ini sangat mendapat apresiasi  positif dari berbagai pihak.

Penggagas Acara Srawung Seni Sukuh, Suprapto Suryodarmo  menegaskan, acara ini menjadi tempat bertemunya seniman. Baik lokal, mancanegara, klasik ataupun modern. Melalui gelaran ini, diharapkan pembatas yang ada di dunia kesenian selama ini coba diruntuhkan. “Banyak seniman-seniman profesional dari luar negeri hadir di sini karena ingin mempelajari lebih jauh kebudayaan alam dan Tuhan. Sebab selama ini banyak seniman yang terjebak dalam rutinitas dunia pentas yang cukup berjarak,” terang mbah Prapto.

Demikian pula juga disampaikan oleh Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti sangat mengapresiasi atas gelaran Srawung Seni Sukuh kali ini. Pihaknya berharap dengan adanya seni rakyat kali ini mampu menjadi sumber inspirasi bagi bangsa ke depannya. “Negara harus berkaca pada rakyatnya, wajah negara ditentukan oleh wajah masyarakatnya. Seperti wajah-wajah kesenian yang ditampilkan dalam Srawung Seni Candi kali ini begitu beragam dan menyejukkan,” terangnya.

Dia pun mengapresiasi keberadaan Candi Sukuh sebagai lokasi Srawung Seni Sukuh kali ini. Menurutnya, bangunan dari Candi Sukuh menyimpan banyak nilai-nilai luhur yang perlu digali. Itu pun baru satu di antara sekitar 60 ribu candi yang kini telah tercatat oleh Kemendikbud. “Kalau satu candi saja bisa memberikan inspirasi, kalau terus digali maka betapa negara kita ke depan bisa menjadi luar biasa maju kebudayaannya,” jelasnya.

Dengan begitu, Wiendu menilai gelaran Srawung Seni Sukuh bukanlah semata pertunjukan seni dan ajang silaturahmi antar seniman semata. Lebih jauh, ia melihat Srawung Seni Sukuh sebagai wujud interaksi secara nurani. “Jadi semakin sering hadir dalam Srawung Seni Sukuh seperti ini ketahanan kebudayaan kita semakin maju dan kuat ke depannya. Tradisi seperti ini harus tetap hidup dan lestari,” tuturnya.

Hal yang sama juga disampaikan Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepandji turut memberikan apreasiasi atas kegiatan ini. Dari prespektif ketahanan sipil, keberadaan candi menjadi penanda akan kokohnya benteng pertahanan nenek moyang dahulu. Keberadaan dari Candi Sukuh juga membuktikan bila tekhnologi nenek moyang dahulu sudah sedemikian hebat dan tidak sebodoh seperti anggapan dunia barat. “Saya kira tidak mudah bagi ahli tekhnik sipil untuk membangun (candi) secantik ini yang berdiri di atas bukit dengan pemandangan indahnya. Jadi bagi tamu mancangera, kalau mau belajar Indonesia jangan lihat Jakarta dan Bali saja, tetapi juga pelajari candi-candi yang ada di negara ini,” katanya.

Gelaran Srawung Seni Candi Sukuh ini melibatkan berbagai kelompok seni seperti seni Carabalen dari Karanganyar, Reog Gembong Kertojoyo dari Sukoharjo, kelompok Merapi Timur dari Klaten, kelompok Rumah Tari Sangishu dari Lampung, Studio Taksu dari Solo. Juga diikuti oleh seniman Sri Van Der Kroef dari Amerika, Yui Nakagami dari Jepang, Anna Rubio Liambi dari Spanyol, Bettina Mainz dari Jerman, Mario Villa dan Gabriella Medina dari Meksiko, Agnes Christina dari Singapura, AA Gede Agung Rahma Putra  dari Bali dan lain sebagainya. Selain itu  juga diisi dengan diskusi bersama budayawan Seno Gumira Ajidarma dan Rahayu Supanggah. pd