Puluhan Siswa Terjaring Razia HP

Bupati Karanganyar Rina Iriani saat sidak HP siswa ke ruang kelas, Rabu (06/11) kemarin.

Bupati Karanganyar Rina Iriani saat sidak HP siswa ke ruang kelas, Rabu (06/11) kemarin.

Karanganyar, Kamis (07/11)

Saat kedatangan Bupati Karanganyar Rina Iriani memasuki kelas, tampak terkejut para siswa yang sedang belajar. Mereka juga tak menduga kedatangan orang nomer satu di Bumi Intanpari itu meminta kejujuran dari pelajar yang membawa Handphone (HP)  di sekolah.

Inspeksi mendadak (Sidak) ke beberapa sekolah, Rabu (06/11) oleh Bupati Rina Iriani disertai dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Inspektorat, Satpol PP serta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karanganyar dilakukan untuk mengetahui penerapan larangan bagi siswa membawa HP ke dalam kelas.

Sekolah yang pertama di sidak yakni SMA Negeri 1 Karanganyar. Di sekolah itu, ditemukan empat siswa membawa HP ke dalam ruang kelas. Selanjutnya dilakukan penyitaan dengan terlebih dulu diberi nama, kelas di secarik kertas. Kemudian Bupati memberikan HP itu kepada Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Agus Yulianto.

Setelah itu, sidak dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Karanganyar. Di sekolah itu dari tiga kelas yang di razia tidak ditemukan sama sekali siswa membawa HP di Sekolah.

Kemudian sidak terakhir di SMA Negeri 2 Karanganyar, dari tiga ruang kelas yang dimasuki didapati puluhan siswa membawa HP dari yang biasa sampai yang canggih.

Bupati Rina Iriani mengungkapkan aturan siswa tidak boleh membawa HP sudah diterapkan sejak tahun 2008. Menurutnya, berkaitan alasan selama ini untuk berkomunikasi dengan orang tua, karena mempermudah dijemput dari sekolah. Ia mengatakan, justru larangan ini menjadikan sekolah, orang tua, guru dan siswa memiliki hubungan yang erat.

Namun bagi siswa yang membawa HP ke sekolah jangan dibawa ke ruang kelas, sebaiknya pihak sekolah membuat loker khusus HP. Jadi HP itu langsung ditaruh di loker sebelum masuk ke kelas.

“Sebaiknya sekolah memberikan informasi kegiatan sekolah setiap hari. Baik kepada orang tua, juga siswa saling menjaga. Sehingga, komunikasi akan terjalin bagus, pengawasan dari rumah dan sekolah berjalan efektif,” katanya.

Dengan tidak membawa HP ke dalam kelas juga agar anak-anak tidak terganggu di kelas saat belajar. Selain itu yang paling ditakutkan adanya seks bebas dan mengakses internet memuat konten porno.

“Bisa dibayangkan satu siswa bisa saja menghabiskan seminggu Rp 25.000 untuk memberi pulsa. Kalau dibiarkan, maka sama saja pemborosan. Ini juga kurang baik. Karena itu di akhir jabatan ini, saya sempatkan sidak untuk mengingatkan lagi guru, siswa dan orang tua,” tandasnya.pd