Harga Bawang Putih Naik Tajam

Harga Bawang Putih dan Cabe naik tajam
Harga bawang putih dan cabe naik tajam seperti di Pasar Jungke, Karanganyar.

Karanganyar, Rabu (27/02/2013).

Harga bawang putih di pasaran mengalami kenaikan cukup tajam selama sepuluh hari terakhir. Hal itu menyebabkan komoditas lokal tersebut menjadi sulit dijangkau di pasaran.

Dari pantauan di sejumlah pasar, Selasa (26/2), harga yang semula hanya kisaran Rp. 12 ribu kini melonjak hingga Rp 35 ribu per kilonya. Untuk jenis bawang putih dengan kualitas rendah saja harganya sudah berkisar Rp 32.000 per kilonya. Sementara jenis bawang putih dengan kualitas bagus per kilonya bisa mencapai Rp 38 ribu lebih. Sementara harga tingkat pengecer, per kilonya sudah mencapai Rp 40 ribu lebih.

Seperti di Pasar Jungke, saat ini harga bawang putih paling mahal sudah mencapai Rp 35 ribu per kilonya. Dari sana, para pedagang yang kulakan biasanya menjual ke pelanggan sekitaran Rp 33 ribu. “Dibandingkan awal tahun lalu, kenaikan harga bawang dalam sepuluh hari terakhir ini terbilang tinggi. Kalau dulu, harga bawang paling tinggi hanya sekitar Rp 12 ribu saja. Tetapi sekarang naiknya mencapai dua hingga tiga kali lipat,” tutur seorang pedagang di Pasar Jungke, Suparmi.

Pedagang lainnya, Suminah mengutarakan kenaikan harga bawang ini hampir merata di seluruh pasar. Akibatnya stok bawang putih menjadi turun dalam beberapa pekan terakhir ini. “Karena harganya masih belum stabil dan terus melonjak, kami pun tak berani ambil banyak. Daripada ambil banyak nanti tidak laku lebih baik jualan dengan stok sekadarnya saja dahulu,” paparnya.

Selain itu, di Pasar Tegalgede, Darwati menambahkan kenaikan harga bumbu dapur pokok ini tidak hanya berlaku bagi bawang putih saja. Komoditas cabe rawit pun kini harganya sudah mencapai Rp 30 ribu per kilonya. Sementara untuk cabe rawit hijau, harganya masih sekitar Rp 20 ribu. “Kenaikan harga cabe ini sudah berlangsung sejak sebulan terakhir ini,” tukasnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop dan UMKM) Karanganyar, Utomo Sidhi membenarkan kenaikan tersebut. Menurutnya kenaikan harga bawang putih ini dipicu oleh gagal panen di Tawangmangu. “Hujan yang turun terus menerus beberapa waktu terakhir ini menjadi faktor utamanya. Kondisi ini sangat merusak stabilitas produksi komoditas bawang,” ungkapnya.

Kegagalan produksi ini, lanjut Utomo, telah terjadi sejak masa puncak panen bawang pada kurun September sampai akhir Oktober kemarin. Saat itu para petani sudah berupaya melakukan penanaman kembali namun mengalami kegagalan. “Karena itu berimbas pada stok di pasaran, banyak pedagang yang akhirnya memilih untuk mengambil stok dari luar daerah,” tandasnya.pd