Brownis Cinta, Berawal dari Cinta, Jadi Primadona Warga

Fauzi Yunianto memperlihatkan brownis cinta, Rabu (13/02)
Fauzi Yunianto memperlihatkan brownis cinta, Rabu (13/02)

Karanganyar, Kamis (14/02/2013). Sebuah dapur salah satu rumah di Badranasri RT 2/ RW IX Cangakan, Karanganyar terlihat sibuk, Rabu (13/2). Sejumalah bahan makanan seperti tepung terigu, telur, margarin, coklat, dan lainnya terlihat menggunung di salah satu sisi sudut ruangan. Saat dicermati lebih teliti, nampak pula sepasang tangan yang asyik mencampur semua bahan-bahan tersebut di sebuah baskom. Sesekali dia menambahkan tepung terigu lantaran adonan terlalu lembek.

Dialah Puspita Sari, salah seorang pemilik Brownis Cinta yang kini tenar di Karanganyar, Solo, Boyolali, Klaten, dan lainnya. Dia begitu sibuk melayani pesanan para pelanggan. Di sampingnya, terlihat suaminya Fauzi Yunianto tak kalah sibuknya. Lelaki berpakaian kaos kuning dengan krah hitam terlihat mondar-mandir yang menandakan jika tengah mengatur usaha yang dirintis dengan istrinya sejak Agustus 2012 itu. Ada yang menarik dari brownis itu. Kenapa diberi nama Brownis Cinta? Usut punya usut, nama itu diambil karena menjadi hadiah dari perkawinan mereka.

“Dua bulan setelah menikah, yakni Agustus 2011 kami memulai usaha. Kenapa disebut cinta? Karena ini berawal dari cinta kami dan saat kali pertama di-launching bentuk bronis adalah love,” kata Fauzi.

Dia menuturkan jika usaha yang kini lumayan sukses itu sejatinya tidak selalu berjalan mulus. Di awal usahanya, dia bersama istri kesulitan dalam hal pemasaran. Betapa tidak, dia hanya menggunakan sistem titipan ke sekolah-sekolah. Promosi pun hanya dilakukan dari mulut ke mulut para pelanggannya dari Karanganyar, Solo, Wonogiri, dan Klaten. “Biasanya akhir tahun mereka ke sini dan dibawa ke daerahnya masing-masing. Lalu mereka mulai menyebarkan keberadaan kami kepada teman-temannya hingga saat ini,” ujarnya.

Dalam sehari, dirinya bersama lima orang pekerja dapur bisa menghasilkan puluhan brownis. Harganya pun bervariasi, tergantung jenis dan ukurannya, berbicara soal varian, Browis Cinta menawarkan tujuh varian, yakni cinta original, hitam putih, oven with almond, keju, mini, mandarin, kentang.

Disinggung soal permodalan, dirinya pun mengaku tidak lagi mengalami kendala. Sejak berdiri, Fauzi dan istrinya mengandalkan uang pribadi dan beberapa pinjaman. Namun, sekarang ini Pemkab Karanganyar melalui Dinas Perindustrian Perdagangan  Koperasi dan Usaha Kecil Mikro Menengah (Disperindagkop dan UMKM) membantunya. Selain mendapatkan kucuran kredit dengan bunga ringan, binaan dari Disperindagkop dan UMKM itu juga mendapatkan sejumlah arahan melalui pelatihan-pelatihan.

 

.pd