MENKES RESMIKAN RUMAH JAMU

Menteri Kesehatan,  Nafisah Mboi, , (tengah) bersama Bupati Karanganyar, Rina Iriani, (kedua dari kanan), sedang mengamati tanaman herbal setelah meresmikan Rumah Jamu di B2P2TOOT, Tawangmangu, Kamis (31/01).
Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi (tengah) bersama Bupati Karanganyar, Rina Iriani , sedang mengamati tanaman obat setelah meresmikan Rumah Jamu di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu, Kamis (31/01).

Karanganyar, Jumat (01/02/2013)

Kementerian Kesehatan memberikan terobosan dengan memberikan bukti ilmiah sehingga jamu dapat dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan formal. Kemudian untuk mengembangkan dan memanfaatkan jamu di Indonesia, maka Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, meresmikan klinik saintifikasi jamu “Hortus Medicus” menjadi  Rumah Riset Jamu (Griya Paniti Pirsa Jamu), dan Gedung Pelatihan IPTEK Tanaman Obat dan Jamu di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Tawangmangu, Kamis (31/01).

“Saat ini Kemenkes memiliki satu Rumah Riset Jamu sebagai tempat uji klinik yang berbasis pelayanan rawat jalan dana rawat inap,” kata Nafsiah Mboi.

Menteri Kesehatan (Menkes) juga mengharapkan model-model seperti ini hendaknya dapat ditumbuhkan di seluruh Indonesia, sebagai bentuk kepedulian terhadap jamu sebagai brand dan sukma Indonesia.

“Sasaran program jangka menengah Kementerian Kesehatan menetapkan 20% Kabupaten/Kota memiliki 2 Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan tradisional, komplementer, dan alternatif.”jelas Menkes.

Selanjutnya ditempat yang sama, Bupati Karanganyar, Rina Iriani mengatakan, Jamu, kini juga menjadi salah satu produk herbal yang merupakan komoditas unggul yang sangat prospektif untuk dikembangkan. Riset-riset ilmiah pun kini semakin banyak diarahkan pada eksplorasi bahan-bahan alami. “Fakta ini mengindikasikan bahwa kedepan pengobatan alami semakin mendapatkan tempat dalam dunia kesehatan,” ujar Rina Iriani.

Pemkab Karanganyar sangat peduli terhadap kemajuan pengobatan herbal melalui jamu, selanjutnya juga mengembangkan upaya penyediaan  sumber daya hayati secara berkelanjutan. Hal ini diusahakan dengan pengembangan Klaster Biofarmaka Karanganyar.

Pemkab Karanganyar beserta 10 kepala daerah tingkat kabupaten/ kota Jawa Tengah telah menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) Penguatan Klaster Biofarmaka di Kabupaten Karanganyar dengan Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

“Nota kesepahaman tersebut bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya dan memanfaatkan hasil-hasil riset, ilmu pengetahuan dan teknologi secara berkelanjutan, terutama dalam bidang biofarmaka (tanaman obat),” jelas Bupati Karanganyar.

 

(pd)