Dua Jenis Durian Lokal Karanganyar Bakal Diekspor

Dua jenis durian lokal asli Karanganyar yakni Lawu Kra dan Teji bakal dikembangkan untuk diekspor. Jenis durian tersebut dibudidaya di beberapa wilayah Karanganyar seperti Jumapolo, Mojogedang, Matesih dan Jumantono.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, mengatakan pihaknya bakal mengembangkan budidaya durian lokal yang diperuntukkan diekspor. Selama ini, durian lokal tersebut hanya dipasarkan di wilayah Soloraya. “Permintaan durian lokal Karanganyar cukup tinggi, jadi saat dipasarkan di luar Karanganyar seperti Solo dan Sragen pasti langsung habis,” ujarnya, Senin (14/1/2013).

Pengembangan budidaya durian khusus ekspor dilakukan agar dapat bersaing di pasaran internasional. Selama ini, Karanganyar telah mengekspor beberaja jenis buah seperti melon dan semangka ke Jepang dan Singapura.

Menurutnya, awal Januari-Maret merupakan musim panen durian. Dipastikan ribuah durian bakal dipasarkan di wilayah Soloraya dan DIY. Selain durian lokal, terdapat beberapa jenis durian lainnya antara lain montong.

Siti mengungkapkan musim penghujan menjadi kendala utama budidaya durian di Karanganyar. Biasanya, para petani memanen durian mulai pertengahan Desember, karena intensitas curah hujan tinggi maka musim panen mundur hingga Januari. “Setiap hari pasti terjadi hujan lebat, ini yang menjadi kendala para petani durian,” paparnya.

Sementara seorang petani durian asal Desa Tugu, Kecamatan Jumatono, Dianto, menyatakan durian yang telah dipanen dijual dengan harga bervariatif. Harga durian ukuran besar dijual senilai Rp20.000-Rp30.000. Sementara durian ukuran kecil dibanderol senilai Rp10.000. Biasanya, harga durian dinaikkan oleh pengecer yang menggelar dagangan di pinggir jalan. “Biasanya dipasarkan ke wilayah Solo sekitarnya, harganya bisa naik setelah dijual para pengecer,” tambahnya.