Klinik Berhenti Merokok Karanganyar Belum Optimal

Program klinik berhenti merokok di Puskesmas Karanganyar kota yang telah dirintis dua tahun terakhir belum berjalan optimal. Kendati sudah mengikutkan salah seorang dokternya untuk pelatihan di Jakarta, namun klinik berhenti merokok Puskesmas Karanganyar baru sebatas memberikan layanan konseling.

Penyebabnya kondisi fisik puskesmas yang belum representatif. Kepala Puskemas Karanganyar kota, Ibnu Ridwan, Selasa (13/11/2012), mengakui klinik berhenti meroko yang merupakan program pemerintah pusat belum optimal.

Di Puskesmas Karanganyar baru sebatas layanan konsultasi atau konseling. “Penyebabnya sarana dan prasarana yang belum memadai. Bisa dikatakan klinik berhenti merokok belum berjalan 100 persen,” katanya. Ibnu menambahkan, sebenarnya ada alat khusus untuk layanan terapi berhenti merokok.

Alat tersebut saat ini masih disimpan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar. “Alat belum kami ambil, masih disimpan di dinas (DKK). Sejak awal alat tersebut sudah dialokasikan dari pusat, hanya saja belum kami ambil karena belum ada ruangan,” urainya.

Ibnu menjelaskan, Puskesmas Karanganyar kota ditunjuk menjadi bagian program rintisan klinik berhenti merokok karena merupakan wilayah jantung kabupaten. Pemerintah pusat mengharuskan setiap kecamatan yang merupakan jantung kabupaten/kota untuk menjalankan klinik berhenti merokok.

Belum berjalan optimalnya layanan klinik berhenti merokok, membuat tingkat kunjungan pasien rendah. Betapa tidak, dalam sebulan hanya ada 10-an pasien yang bermaksud mendapatkan layanan konseling berhenti merokok. Disinggung solusi persoalan keterbatasan luas puskesmas, Ibnu, menyampaikan, akan ada rehabilitas besar bangunan puskesmas tahun depan.