Musim Hujan, Waspadai Terbentuknya Luweng

Warga diminta mewaspadai adanya proses karsifikasi atau pelarutan batuan gamping yang biasa terjadi di wilayah Wonogiri selatan. Bila lapisan batuan gamping di bawah tanah ada yang lemah, maka bisa terbentuk luweng atau gua vertikal baru.

Hal itu dikatakan Kabid Geologi Air Tanah dan Energi, Eko Septaningsih mewakili Kepala Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral (PESDM) Wonogiri, Arso Utoro, Rabu (7/11). Menurut Eko, tiga kecamatan yang potensial terjadi karsifikasi yaitu Paranggupito, Giritontro, dan Pracimantoro. Setidaknya terdapat 148 gua dan luweng di tiga kecamatan tadi. Terkait proses karsifikasi, tidak menutup kemungkinan akan terbentuk lagi luweng baru.

“Musim hujan, air melarutkan batuan gamping. Meski tidak bisa dipastikan kapan, tanah jemblong (runtuh) karena batuan gamping yang tergerus air bisa saja terjadi. Yang terakhir Maret lalu terbentuk luweng di Dusun Sawit, Desa/Kecamatan Paranggupito,” jelas Eko.

Sebagai pengamanan, di APBD 2013 pihaknya mengusulkan pembuatan bangunan pengaman di sana. “Bisa saja begitu hujan longsor lagi, luweng ini menjadi fokus pengawasan kami karena berada di permukiman,” terangnya.

Ia pun mengimbau warga di sekitar luweng agar selalu menjaga kebersihan luweng dari sampah. Tak jarang, ada kambing dan ayam hilang setelah dicari ternyata masuk ke luweng. “Ayam dan kambing tadi ya akhirnya masuk luweng, masih ditambah dengan sampah yang baik disengaja atau tidak dibuang dan masuk ke luweng. Kalau sudah tersumbat bisa menggenang dan merendam permukiman. Seperti yang pernah terjadi di Paranggupito dan Pracimantoro lalu,” katanya.

Ia menandaskan, luweng harus tetap terbuka agar air bisa masuk. Hal ini karena luweng menuju sungai bawah tanah dan bisa menggenang bila tersumbat. Untuk pengaman cukup dipagari. “Yang pasti jangan diubah-ubah, biarkan secara alami seperti apa adanya,” pungkasnya.