Rina: Situs Watu Kandang Harus Dilindungi

Bupati Karanganyar Rina Iriani menegaskan bahwa situs purbakala Watu Kandang yang berada di Dusun Ngasinan Lor, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih harus dilindungi. Warga sekitar dilarang keras merusak situs yang dianggap bersejarah tersebut.

“Kita semua harus melihat dari sisi dan nilai sejarah terkait keberadaan situs Watu Kandang. Masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama melindungi situs. Jangan sampai batu-batu bersejarah ini dipecah atau dirusak. Tidak boleh neko-neko,” ujar Rina saat berkunjung ke lokasi situs, Selasa (16/10).

Rina juga sempat berdiskusi dengan beberapa warga untuk menyamakan persepsi bahwa peninggalan zaman Megalithikum itu harus dijaga. Kedatangan Rina juga untuk memastikan situs Watu Kandang dalam kondisi baik.

Sementara terkait dengan ganti rugi tanah milik warga yang masuk area situs, Rina mengaku itu merupakan kesepakatan antara pemilik tanah dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. “Apakah nanti akan ada ganti rugi atau warga tetap diperbolehkan menanam di tanah tersebut sambil merawat situs, merupakan kesepakatan antara warga dan BPCB. Yang terpenting saat ini situs tersebut dalam kondisi aman,” ujarnya.

Di situs Watu Kandang tersebut terdapat sekitar 3 hektare tanah warga yang diketahui merupakan bagian dari situs tersebut. Sehingga warga diharapkan melaporkan sertifikat tanahnya kepada pihak kecamatan.

Camat Matesih, Murdatmo, mengatakan pihak BPCB Jawa Tengah akan melakukan pengkajian ulang terkait daerah yang merupakan bagian dari cagar budaya situs Watu Kandang. “Perwakilan BPCB  yang datang akan melapor ke atasannya untuk membahas hal tersebut. Apakah akan ada ganti untung ataukah akan ada kompensasi perawatan bagi warga, kita tunggu saja,” jelas Murdatmo.

Salah satu warga yang memiliki tanah di areal tersebut, Ratmowiyoto, menyambut baik ajakan bupati untuk menjaga dan melestarikan situs bersejarah tersebut. Ia bersama dengan sejumlah warga lain pun menyatakan kesiapannya untuk turut serta melestarikan situs tersebut. “Ini sudah kesepakatan warga. Saya juga berharap dapat terus menanam di tanah saya, karena itu adalah mata pencaharian kami,” jelasnya.