Antisipasi Kekeringan, Pemkab Bakal Bangun 2 Waduk

Pemkab Karanganyar segera membangun dua waduk untuk mengatasai kekeringan di sejumlah wilayah. Kedua waduk itu akan dibangun pada pertengahan 2013 dan 2014.

Dua waduk itu adalah yakni Waduk Jlantah di Kecamatan Jatiyoso dan Waduk Gondang di Kecamatan Kerjo. Pembangunan Waduk Gondang diperkirakan dimulai pertengahan 2013. Waduk ini mampu mencukupi kebutuhan air bagi 4.630 hektare lahan pertanian di sekitar Kecamatan Kerjo. Sementara Waduk Jlantah yang bakal dibangun mulai 2014 bakal mencukupi kebutuhan air sekitar 387 hektare lahan pertanian di Karanganyar dan sebagian Wonogiri. Detail Engineering Design (DED) tengah direvisi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar, Priharyanto, mengatakan DED pembangunan Waduk Jlantah telah selesai dibuat Bappeda Karanganyar pada 2011 lalu. Selanjutnya, desain awal Waduk Jlantah disempurnakan tim teknis dari BBWSBS. “Anggarannya belum bisa dipastikan, seluruhnya berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum karena APBD Pemkab Karanganyar tak mampu membiayai,” katanya.

Waduk Jlantah bakal memasok air ke lahan pertanian di beberapa wilayah seperti Jatiyoso, Jumapolo, Jatipuro, Jumantono dan sebagian wilayah Wonogiri. Lahan pertanian di wilayah tersebut dipastikan kering saat musim kemarau. Dengan dibangunnya waduk maka para petani tetap bisa bercocok tanam selama musim kemarau. Pihaknya berkoordinasi dengan BBWSBS juga sedang menyurvei ke lokasi pembangunan Waduk Jlantah untuk mengukur kedalaman waduk.

Berdasarkan DED, air Waduk Jlantah juga bakal dimanfaatkan untuk memasok air bersih ke permukiman penduduk. Kapasitas air bersih di waduk tersebut 150 liter/detik. “Kemungkinan nanti yang mengelola Perum Jasa Tirta, namun kami belum tahu apakah PDAM Karanganyar mau membeli air bersih tersebut atau tidak,” paparnya.

Seorang petani asal Jumantono, Kayitno, meminta agar pembangunan Waduk Jlantah dipercepat. Pasalnya, pengolahan lahan pertanian di wilayahnya terkendala pasokan air dari irigasi yang cukup minim. Saat musim kemarau, para petani membiarkan sawah mereka tidak ditanami karena tidak adanya pasokan air. Mereka baru mulai bercocok tanam kembali ketika musim penghujan. “Karakter tanah di sini berbeda dengan wilayah lainnya yang selalu kering saat musim kemarau. Tidak sedikit para petani yang beralih profesi sebagai pembuat bata atau pedagang selama musim kemarau,” tambahnya.