PERLINDUNGAN ANAK: Kasus Pemborgolan Bocah Tak Bisa Dianggap Remeh

Kasus pemborgolan dua bocahdi Desa Bolon, Colomadu, Karanganyar menurut psikolog tak bisa dianggap remeh.

Psikolog menilai kasus pemborgolan dua anak oleh oknum TNI AU karena diduga mencuri jambu air, Senin (17/9/2012) lalu, dapat menimbulkan trauma dan dapat berdampak negatif pada perkembangan psikologis anak.

Psikolog asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tuti Harjani, menjelaskan dengan kejadian pemborgolan itu akan muncul banyak tanda tanya dalam diri korban. Meraka akan bertanya-tanya kenapa harus terjadi pemborgolan dan apa kesalahan yang mereka lakukan. Setelah itu akan muncul trauma dengan kemungkinan gejala yang berbeda. “Bisa jadi setelah itu anak menjadi pendiam atau pendendam,” Selasa.

Selain itu, dampak negatif lainnya dapat timbul jika pada saat pemborgolan itu korban diberi kata-kata kasar dan makian. Hal itu bisa menyebabkan anak menjadi pemalu, rendah diri, atau bahkan akan meniru perlakuan tersebut dan melampiaskannya kepada orang lain. “Itu sebagai bentuk balas dendam,” paparnya.

Seharusnya untuk menangani permasalah seperti itu, anak cukup diberi pengertian bahwa mengambil barang orang lain tanpa izin merupakan perbuatan yang salah dan tidak perlu diberi perlakuan berlebihan. “Sebenarnya anak jika sudah diberitahu dengan diberi pendampingan sudah bisa mengubah sikapnya,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, IM, seorang bocah asal Bolon, Colomadu, Karanganyar, disekap dan diborgol jari oleh SP gara-gara memetik jambu air tanpa izin di halaman rumahnya. Bocah itu disekap bersama kawannya, AZ, di gudang rumah SP. Kondisi itu telah membuat keduanya trauma.

SH, ibunda IM, saat ditemui  di rumahnya, mengaku baru mengetahui kejadian itu setelah warga sekitar berkerumun meminta pembebasan dua bocah itu. Ibu-ibu sampai bercucuran air mata menyaksikan kejadian itu. Kedua bocah yang baru duduk di kelas IV dan VI SD itu baru dibebaskan setengah jam kemudian.