Lahan Cengkeh di Jatiyoso Susut Signifikan

Lahan produktif tanaman cengkeh di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, berkurang signifikan 15 tahun terakhir.

Berdasar data di kantor pertanian kecamatan setempat, penyusutan lahan mencapai 60 persen dari luas sebelumnya. Saat ini tinggal 1.300 hektare lahan tanaman cengkeh di wilayah kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri itu.

Informasi yang dihimpun  akhir pekan kemarin menyebut, penyusutan lahan terjadi sangat signifikan sejak 1994-1995 silam. Ketika itu Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC) mendorong pengurangan populasi cengkeh menyusul jatuhnya harga jual. Saat itu satu kilogram cengkeh hanya dihargai Rp750.

Petugas Operasional Pertanian Kecamatan Jatiyoso, Sukandar, saat ditemui mengatakan petani mengalihkan sebagian lahan cengkeh dengan komoditas palawija serta melinjo dan buah-buahan.  “Sejak dulu cengkeh adalah komoditas unggulan. Tapi populasinya sudah jauh berkurang,” katanya.

Harga Tinggi

Meski demikian karena pengurangan besar-besaran lahan cengkeh, masa panen raya saat ini harganya kembali tinggi. Satu kilogram cengkeh basah dijual petani seharga Rp30.000. Situasi tersebut menjadi keuntungan tersendiri petani cengkeh di Jatiyoso. Penebangan besaran-besaran tanaman cengkeh di kecamatan lain membuat Jatiyoso satu-satunya sentra cengkeh di Bumi Intan Pari.

“Saat ini masa panen raya cengkeh, siklus yang terjadi empat tahunan,” imbuh Sukandar.

Penjelasan senada disampaikan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Jatiyoso, Zaini Fahrudin. Menurut dia, sembilan desa di Jatiyoso memiliki lahan produktif tanaman cengkeh. Sementara salah seorang petani cengkeh asal Glagahmalang, Wonorejo, Jatiyoso, Satiyem, mengakui hasil panen tahun ini cukup menggembirakan.

“Harga satu kilogram cengkeh basah Rp30.000, lumayan tinggi,” akunya.