Launching Museum Keris dan Fosil

Bagi para penggemar, pedagang, pemerhati keris dan juga kolektor senjata kuno khususnya keris sekarang memiliki tempat baru yang bisa dijadikan alternatif untuk menghilangkan dahaganya akan dunia perkerisan. Sekarang mereka bisa mengunjungi Museum Keris dan Fosil Padepokan Keris Brojobuwono. Museum yang baru di-launching Sabtu (26/5) malam itu terletak di Wonosari, Wonorejo , Gondangrejo, Karanganyar. Meski terbilang sebagai museum baru, tetapi koleksi keris mencapai lebih dari 300.
Keris-keris yang dikoleksi di Padepokan Keris Brojobuwono sebagian ditemukan pada tahun 2010 hingga 2011. Keris-keris yang tersimpan adalah keris yang tersohor di antara abad V SM hingga abad ke XVIII. Yang menarik dari Museum ini adalah pemrakarsa atau sesepuh padepokannya justru bukan berasal dari dunia yang berhubungan dengan benda-benda kuno. Melainkan dari ilmu kedokteran, yakni dokter kandungan. Dialah Bambang Gunawan.
Dalam sambutannya semalam Bambang mengatakan, jika kecintaannya pada keris bermula pada rasa penasarannya akan senjata nenek moyang itu. ”Sebelumnya saya hanya memiliki satu koleksi keris, dan kemudian saya ingin menambahnya lagi,” terang Bambang, kemarin. Bambang pun berusaha mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keris. Dan rasa penasarannya itu pun yang akhirnya mempertemukannya dengan Basuki Teguh Yuwono.
”Dan saat itu saya berangkat ke Bali bersama istri saya, tetapi tidak untuk berlibur melainkan menemui beliau (Basuki),” katanya. Dari pertemuan itu, keduanya pun memiliki satu arah pemikiran yang sama dan keduanya pun sepakat mendirikan museum keris dan fosil. Disisi lain, setelah mendapatkan pengakuan dari Unesco Bambang pun berpikir, kebanggaan akan keris tidak hanya cukup dengan mengoleksinya saja. ”Melainkan bagaimana menciptakan keris-keris baru dengan pakem yang sama dengan pakem keris zaman dulu,” terangnya.