Pengusaha Rice Mill Desak Perda Direvisi

Ratusan Pemilik usaha Rice Mill atau penggilingan padi Keliling yang tergabung dalam Paguyuban Rice Mill Keliling Karanganyar (PRKK) mendesak Pemkab Karanganyar melakukan Revisi Perda Rice Mill Nomor 2 tahun 2010, Jumat (27/4).
Dengan memarkir sejumlah kendaraan selep keliling di kantor PRKK Dukuh Pokoh RT 02 RW VII Desa Ngijo, Tasikmadu mereka mendesak agar Pemkab bisa memperhatikan nasib mereka. “Jujur, Perda itu memberatkan kami sebagai pemilik rice mill keliling, padahal keberadaan kami juga membantu petani,” ucap Suripto, Jumat (27/4).
Dalam Perda yang resmi berlaku Mei 2010 itu disebutkan bahwa setiap penggilingan padi keliling dilarang melakukan kegiatan. Dan yang diizinkan hanyalah penggilingan padi yang menetap. “Kalau seperti ini, kita sering waswas di jalan misalkan ada razia atau penertiban karena kita dianggap ilegal,” tandasnya.
Ia juga mengatakan bahwa saat ini pemilik Rice Mill Keliling semakin banyak, yaitu mencapai 600 orang yang tersebar di 17 kecamatan. Dilarangnya Rice Mill keliling di Karanganyar juga akan merugikan petani yang membutuhkan jasa mereka. Menurutnya petani lebih memilih menggunakan Rice Mill karena praktis.
Rice Mill bisa diundang ke tempat mereka, sehingga mereka tidak perlu ongkos tambahan ke tempat penggilingan padi. “Ini buktinya. kita kumpulkan sekitar 15.000 dukungan dari petani berikut fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang mendukung keberadaan Rice Mill Keliling,”
Sekretaris PRKK, Kamidi menambahkan 15.000 bukti dukungan petani beserta fotokopi KTP tersebut akan dikirimkan kepada Bupati Karanganyar, Rina Iriani agar Pemkab bisa merevisi keberadaan Perda Rice Mill yang merugikan pihaknya.
Menurut Kamidi, para pemilik usaha penggilingan padi keliling sebenarnya bersedia mengikuti aturan yang ada, asalkan Pemkab tidak mengharuskan usaha penggilingan padi untuk menetap. “Kalau perlu ditarik retribusi kita juga siap, tapi tentu tidak memberatkan. Intinya tolong jangan dilarang, banyak petani yang membutuhkan kami,” imbuh dia.