PENANGANAN BENCANA: BPBD Bangun Pusat Pengendalian Rawan Bencana

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar membangun pusat pengendalian operasi bencana alam. Sehingga proses evakuasi dan penyaluran bantuan logistik kepada korban bencana alam lebih efisien.

Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar Aji Pratama Heru Kristianto mengatakan sesuai instruksi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di setiap daerah yang rawan bencana alam perlu dibangun pusat pengendalian operasi bencana alam. Saat ini, pengerjaan pembangunan pusat pengendalian itu mencapai 80 persen. “Pembangunannya dimulai awal Maret, targetnya sepekan mendatang rampung,” ujarnya.

Pusat pengendalian tersebut terdiri dari tiga ruangan yakni peta bencana, komunikasi dan koordinasi logistik. Di ruangan peta bencana terdapat peta topografi kawasan bencana di wilayah Karanganyar. Dalam peta itu ada lampu berukur kecil bewarna biru, hijau, kuning dan merah. Lampu biru menandakan kawasan rawan tanah longsor, hijau rawan banjir, kuning rawan angin lesus dan merah rawan kebakaran. “Petugas akan lebih cepat sampai di lokasi bencana alam dengan memahami peta topografi bencana itu,” paparnya.

Menurutnya, pembuatan peta itu dilakukan oleh Pusat Pendidikan Topografi (Pusdiktop) TNI AD di Baluwarti, Solo. Pembuatannya memakan waktu hampir tiga pekan. Sementara sebanyak 27 petugas BPBD Karanganyar telah mengikuti pelatihan khusus untuk memahami peta topografi. “Petugas sudah dilatih pada bulan Februari lalu, mulai dari membaca peta dan mengoperasikan Global Positioning System (GPS),” jelas Heru.

Ruangan komunikasi digunakan sebagai pengendali jaringan komunikasi yang terhubung langsung dengan BNPB. Seluruh peralatan menggunakan teknologi canggih yang dihubungkan melalui satelit. Sementara ruangan koordinasi logistik digunakan untuk melakukan koordinasi baik logistik, peralatan hingga personel.

Diharapkan, lanjutnya, dengan adanya pusat pengendalian operasi bencana alam maka proses penanganan bencana alam lebih cepat dan maksimal. Sehingga apabila terjadi bencana alam maka tidak memakan korban jiwa. “Saya harap proses penanganan bencana alam lebih maksimal karena dmudahkan dengan adanya peta topografi bencana alam itu,” pungkasnya.