Pembangunan Fisik Terpaksa Ditunda

Muhammadiyah sebagai salah satu Ormas terbesar di Indonesia menentang rencana kenaikan harga BBM per 1 April mendatang. Kebijakan tersebut dianggap sebagai sebuah kebijakan yang mengabaikan aspirasi rakyat yang tidak menginginkan adanya kenaikan harga BBM.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsuddin seusai menghadiri Panen Raya di Desa Pulosari Kecamatan Kebakkramat, Minggu (25/3) kemarin. Menurutnya, kenaikan harga BBM kali ini terjadi akibat longgarnya pengawasan terhadap sumber daya minyak dan gas yang dipunyai Negara. Menurutnya pengelolaan minyak dan gas selama ini justru memberikan keuntungan yang sangat besar kepada pihak asing.

Selain membuat harga Sembako melambung, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) juga berpengaruh terhadap pengerjaan proyek di Karanganyar. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Karanganyar, Priharyanto mengaku terpaksa menunda lelang sejumlah proyek sembari menunggu kejelasan naiknya harga BBM. Mengingat naiknya harga BBM tentu akan berimbas kepada naiknya harga material.

“Penundaan itu sudah kita laporkan kepada Bupati, karena semua juga tahu jika kenaikan harga BBM membuat semua lini berpengaruh termasuk harga material,” ujarnya, Sabtu (24/3) kemarin.

Priharyanto juga mengaku belum bisa memastikan sampai kapan proyek tersebut ditunda. Ia juga tidak menjelaskan detail jumlah proyek tersebut. Namun ia memperkirakan ada  dana sebesar Rp 55 miliar telah dipersiapkan guna membenahi sejumlah infrastruktur yang mengalami kerusakan.

Namun, kendati BBM naik, tidak akan mengubah nilai proyek pembangunan fisik secara keseluruhan karena semua nilai proyek sudah masuk dalam APBD. Bila BBM Naik tentunya bakalan ada perubahan, misalnya saja penyesuaian terhadap Harga Patokan Setempat (HPS).