MELASTI Proses Pembersihan Batin Manusia Dan Alam

Ratusan umat Hindu Karanganyar dengan membawa berbagai sesaji yang diletakkan di atas kepala maupun digendong berduyun-duyun mendatangi Telaga Madirda di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Minggu (18/3/2012).

Mereka kemudian meletakkan sesaji tersebut di atas meja panjang. Sesaji ini disembahkan untuk melaksanakan upacara Melasti, sebelum hari Nyepi yang jatuh pada Jumat (23/3/2012) mendatang. Setelah meletakkan sesaji di atas meja panjang, para umat itu lalu mengambil air dari sumber air telaga.

Denting-denting suara lonceng memecah keheningan di tengah udara dingin yang menusuk tulang di Telaga Madirda. Sembari terus menggerakkan lonceng, seorang pedande terus melafalkan doa-doa pada Sang Hyang Widhi. Sementara ratusan umat hindu tampak khusyuk mengikuti doa yang tengah dipanjatkan Pedande tersebut.

Kawasan telaga yang terletak di salah satu kawasan kaki Gunung Lawu ini menjadi salah satu pusat tempat  upacara melasti yang dilakukan umat hindu Karangayar. Makna Upacara melasti yakni proses pembersihan lahir batin manusia dan alam, dengan jalan menghayutkan segala kotoran menggunakan air kehidupan. Oleh karena itu prosesi sembahyang dilakukan di sumber-sumber air.

Upacara melasti di mulai dengan pengambilan air dari sumber mata air di sudut telaga. Beberapa umat pun turut mengambil air sembari melafalkan doa agar diberi kesucian saat melaksanakan catur brata penyepian. Beberapa sesaji seperti makanan dan buah-buahan juga turut dipersembahkan dalam ritual ini.

Seusai melakukan persembahyangan sebagian sesaji yang telah didoakan ini dilabuh di Telaga Madirda. Hal ni dilakukan sesuai dengan ajaran dalam kitab suci wedha. Bagi umat hindu, upacara Melasti ini bertujuan untuk menyucikan diri dengan tirta atau air. Melasti merupakan awal dari rangkaian perayaan Nyepi tahun baru saka 1934.

“Upacara ini memang menjadi satu rangkaian persiapan  perayaan  hari Nyepi. Upacara melasti bertujuan untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan catur brata penyepian,” kata pemangku Agama Hindu Karanganyar Jero Mangku Made Murti.

Selain untuk menyucikan diri, dia menambahkan ritual melasti ini juga bertujuan untuk menyucikan alam. Penggunaan kidung Jawa sendiri berpatokan pada ajaran kitab wedha agar umat hindu menghormati adat istiadat setempat. “Karena ini di Jawa maka kita harus menghormati leluhur-leluhur yang ada,” ujarnya.

Rangkaian upacara Hari Nyepi akan dilanjutkan dengan tawur agung kesanga. Setelah itu pada 23 Maret mendatang terhitung mulai pukul06.00 hingga 24 jam berikutnya, umat hindu akan melaksanakan Nyepi.

“Di sini umat hindu akan mengamalkan catur brata, yaitu tidak melakukan pekerjaan, tidak menyalakan api, tidak bepergian dan tidak bersenang-senang,” katanya.

Sumber : http://www.solopos.com/2012/karanganyar/melasti-proses-pembersihan-batin-manusia-dan-alam-171531