Fasilitas Sekolah Kurang Dimaksimalkan

Komisi IV DPRD Karanganyar menilai sejumlah perpustakaan sekolah belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pihak sekolah. Masalah tersebut muncul lantaran sekolah kekurangan tenaga untuk mengurusnya.

Ketua Komisi IV DPRD Karanganyar, Eko Setiyono, mengatakan saat ini masih banyak tenaga guru yang masih kurang, khususnya guru SD. Sebetulnya, kata dia, sarana dan prasarana di sekolah sudah disediakan. Namun pemanfaatannya kurang maksimal.

Data dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karanganyar menyebutkan saat ini lebih dari 300 SD di Karanganyar belum memiliki perpustakaan sekolah. Dari total 500 an SD, baru sekitar 180 SD yang sudah memiliki perpustakaan sendiri. Beberapa kekurangan tenaga guru itu biasanya ditambahi dengan tenaga honorer. “Biasanya guru yang ada diperbantukan untuk mengurus perpustakaan juga,” ujar Eko saat ditemui di ruang Komisi IV DPRD Karanganyar, Senin (6/2/2012) siang.

Menurutnya, jika fasilitas yang bagus tanpa dibarengi dengan menumbuhkan minat baca siswa, maka hasilnya juga akan sama saja. Karena itu, yang perlu dilakukan saat ini adalah menumbuhkan dulu minat baca siswa di sekolah, setelah itu baru mengadakan atau membenahi fasilitasnya. Ia menilai saat ini minat baca siswa di Karanganyar masih sangat kurang. “Kalau bisa berbarengan justru lebih bagus. Sarana diperbaiki, minat baca siswa ditingkatkan dan manajerial diperbaiki lagi,” terangnya.

Sementara itu untuk masalah pengadaan buku bacaan, jika memang dari pusat buku (Pusbuk) di Jakarta ada ribuan buku menumpuk, seharusnya Disdikpora aktif untuk menyurati sekolah agar lebih aktif untuk pengadaan buku dari Pusbuk secara gratis. Soal biaya pengiriman, kata dia, sebenarnya hal itu bisa diatur. “Disdikpora beri surat melalui musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) atau Unit Pelayanan Teknis (UPT) di kecamatan. Saya yakin buku yang menumpuk di sana bisa secapatnya bisa diambil bila dari dinas aktif