Petani Tawangmangu Pilih Tanam Bibit Wortel Impor

Petani wortel di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar beramai-ramai menanam bibit sayuran impor. Penyebabnya, pedagang dan konsumen memilih sayuran hasil impor di samping keuntungan cukup besar. Petani wortel, Paryono, mengatakan dirinya terpaksa menanam bibit wortel impor dari Jepang. Dia beralasan hasil panen sayur impor memiliki ukuran lebih besar dan lebih segar dibandingkan tanaman lokal. Selain itu bibit wortel Jepang masa panennya juga lebih cepat satu bulan dibanding tanaman lokal serta lebih tahan hama penyakit. “Petani banyak yang menggunakan bibit dari Jepang karena stok bibit lokal susah didapat. Hasilnya juga lebih bagus bibit impor daripada yang lokal.

Dia menambahkan karena berkualitas lebih bagus, harga satu kilogram wortel Jepang mencapai Rp 2.5oo. Sedangkan harga wortel lokal hanya Rp 2.ooo. Hal senada diungkapkan petani lain, Hardiyanto. Menurutnya, para pedagang dan distributor memilih wortel dari Jepang yang mudah dicuci dan lebih besar ukurannya. Di pasaran, tutur dia, wortel kualitas impor banyak diburu pedagang. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang berani membayar lebih.

Terkait dengan kebijakan impor sayur-mayur yang dilakukan pemerintah, dia menuturkan belum terlalu berdampak terhadap petani di Tawangmangu. Dia dan petani lainnya berharap impor yang dilakukan pemerintah bukan berupa produk sayur-mayur melainkan bibit sayur. Sementara ini, para petani mulai menanam bibit sayur impor seperti wortel agar hasil panennya tidak kalah dengan sayuran yang diimpor dari luar.

“Kami hanya minta pemerintah bukan mengimpor sayur-mayur dari luar tapi bibit saja”.

Kendati demikian, dia mengaku mulai waswas dan khawatir dengan kebijakan impor sayur dari China karena akan membuat harga sayur lokal anjlok dan mematikan petani. Mereka menilai impor sayur  belum diperlukan, justru akan mematikan para petani lokal lantaran harga jual say’ur lokal yang akan jatuh.