Sulit Air, Petani Terancam Kekeringan

Musim penghujan yang tak kunjung datang membuat petani di Bumi Intanpari Karanganyar kesulitan air. Sulitnya air untuk irigasi tersebut membuat sejumlah lahan pertaniannya dibiarkan bera.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Rukun (Gapoktan) Manunggal di Dukuh Karang Kelurahan Lalung Jaten  Sumarso (52) Rabu (5/10) mengungkapkan masa kemarau ini membuat petani di kelompok taninya kesulitan mendapatkan air. “Dari 210 hektare lahan yang ada di kelurahan ini, kami hanya bisa mengolah antara 30 sampai 40 hektare saja,” kata dia.

Sumber mata air yang selama ini menjadi satu-satu tumpuan mereka dari mata air Gunung Lawu ternyata sudah tidak dapat diandalkan kembali untuk mengairi sawah mereka yang telah berbulan-bulan mengering. “Semenjak digunakan untuk air minum oleh PDAM, aliran airnya tidak sebanyak dulu. Sehingga saat musim kemarau, banyak petani yang tidak menggarap lahan pertaniannya.

Hal senada juga disampaikan oleh Pardiyanto (31), petani dari Dukuh Karang lainnya. Selain masalah air dirinya juga khawatir terhadap hama wereng yang telah membuatnya gagal panen selama tiga kali sehingga membuat dirinya rugi, “Air sulit, hama juga banyak,mudah-mudahan saja obat pembasmi yang baru manjur untuk menangkal wereng.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur Jungke Kecamatan Kota, Sunarto, (43)  mengutarakan pandangan yang berbeda. Pasalnya, kelompok tani di tempatnya hingga saat ini masih mampu mengelola lahan pertanian hingga 85 persen dari total lahan seluas 125 hektare. “Sejauh ini masih dapat kita siasati. Air dari Waduk Delingan yang menjadi sumber pengairan kita sejauh ini pun masih lancar. Beberapa lahan pun juga ada yang mulai menggunakan pompa diesel.