Jumlah arus balik lebih besar dibandingkan arus mudik

Jumlah warga Karanganyar yang pergi ke Jakarta dan sekitarnya setelah Lebaran, mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Pasalnya saat mudik, menurut data dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Karanganyar, jumlah pemudik mencapai 3.541 orang. Sedangkan saat arus balik, ada sekitar 3.831 orang.

Kabid Perhubungan Dishubkominfo, Joko Sumaryono mengatakan, data tersebut didapat dari pantauan di berbagai terminal di Karanganyar dan laporan dari sejumlah agen layanan bus. “Ada kenaikan sekitar delapan persen antara arus mudik dengan arus balik,” ungkap Joko saat ditemui wartawan, Rabu (7/9/2011). Menurut Joko, kenaikan jumlah penumpang bus yang pergi ke Jakarta maupun kota-kota besar lainnya itu terjadi lantaran selama mudik, penumpang sulit terpantau.

Dishubkominfo kesulitan untuk mendapatkan data yang benar-benar valid lantaran ada sebagian warga Karanganyar dari perantauan, ada yang turun dari bus antar kota antar provinsi (AKAP) di Solo. Dari sana, para pemudik itu ada yang melanjutkan perjalanan ke kampungnya masing-masing menggunakan kendaraan umum antar kota dalam provinsi (AKDP). Khusus kendaraan AKDP memang bukan menjadi perhatian utama saat Lebaran. Maka dari itu, pemantauan penumpangnya pun tidak diutamakan.

Sementara itu, ada juga sebagian warga Karanganyar yang dari perantauan lalu turun di beberapa terminal di Karanganyar. “Ada dua terminal yang sering digunakan untuk menurunkan penumpang dari bus AKAP, yakni di Terminal Tegalgede dan Terminal Matesih. Sebagian yang lain ada juga yang turun di Terminal Gondangrejo,” ungkap Joko.

Sementara itu, pihaknya bisa memperkirakan berapa jumlah warga Karanganyar yang meninggalkan Karanganyar lantaran penumpangnya bisa terpantau melalui berbagai titik yang disediakan untuk mengangkut penumpang bus AKAP. Dishubkominfo menyediakan tiga titik lokasi untuk mengangkut penumpang luar kota itu, yakni di Terminal Matesih, Terminal Tegalgede
dan Alun-alun Karanganyar.

Untuk mengantisipasi terjadi kecelakaan, beberapa waktu yang lalu pihaknya juga telah melakukan pemeriksaant terhadap kendaraan yang digunakan untuk mengangkut penumpang arus balik. Sedikitnya ada 17 kendaraan yang terjaring dalam pemeriksaan itu, dengan berbagai pelanggaran. Ada yang tidak memiliki alat pemecah kaca, lampu mati, ditangguhkan keberangkatannya karena pegasnya putus dan sebagainya. Ada juga perusahaan bus yang tidak sesuai trayeknya, sehingga bus tersebut diminta untuk ngandang. “Kalau kondisi seperti itu masih tetap dipaksakan untuk berangkat, maka sangat membahayakan keselamatan penumpang,” kata Joko.