Puluhan PKL di Cemoro Kandang ditata

Sebanyak 46 pedagang kaki lima (PKL) di daerah perbatasan Tawangmangu, Jateng- Magetan, Jatim tepatnya di daerah Cemoro Kandang ditata. Penataan dilakukan guna memperindah pintu masuk wilayah Karanganyar.

Camat Tawangmangu Yopi Eko Jatiwibowo kepada Espos, Rabu 17 agustus 2011 mengatakan sebanyak 46 kios makan di sepanjang jalan mulai tikungan Tlogo Dlingo ke timur sampai perbatasan Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu, Magetan dibangun.

Menurut Yopi, penataan dilakukan agar kawasan pintu masuk Karanganyar tidak terlihat kumuh dan semrawut. Selama ini keberadaan mereka terlihat tidak seragam. Yopi menuturkan keberadaan para pedagang sudah mengantongi izin dari Perhutani dan Bina Marga.  “Jadi kami ingin menyeragamkan saja. Dan ini sekaligus memperindah pintu masuk Karanganyar,” ujarnya.

Yopi mengatakan pembangunan  kios harus memperhatikan aturan sepadan jalan serta konservasi kawasan hutan di sekitar kios yang didirikan tersebut. Sesuai dengan target, pembangunan kios di kawasan Cemoro Kandang rampung setelah Lebaran. Saat ini pembangunan sejumlah warung mulai dilaksanakan dan dikebut.

Pihaknya berharap dengan penataan kios-kios makan diharapkan kawasan Cemoro Kandang mampu menjadi salah satu kawasan wisata andalan.  “Apalagi nanti kalau jalan tembusnya sudah jadi. Sekarang saja sudah mulai ramai,” harapnya.

Salah satu pedagang Tono mengatakan masing-masing pedagang menerima kucuran kredit senilai Rp 6 juta dari Bank Karanganyar. Dengan jangka waktu pengembalian selama tiga tahun dengan nilai angsuran Rp 250.000 per bulan.  “Itu dengan tetap pakai jaminan. Seperti saya menggunakan jaminan sertifikat rumah,” ujarnya.

Dia mengaku sangat mendukung rencana penataan kawasan tersebut. Hanya pihaknya mengeluhkan luasan kios yang semakin sempit. Semula sebelum ditata panjang kios miliknya bisa mencapai 12 meter, sedangkan lebar menentukan sendiri. Bahkan pedagang bisa leluasa menentukan luasan kios yang akan dibangun. Namun kios baru yang dibangun hanya berukuran 4 x 6 meter. “Tapi nggih mboten nopo-nopo . Kiosnya tambah sempit yang penting bisa rapi,” tuturnya.