Disnakkan Karanganyar minta masyarakat waspadai daging semigelonggongan dan daging busuk

Masyarakat Karanganyar diminta mewaspadai adanya daging busuk dan semigelonggongan yang beredar di sejumlah pasar. Pasalnya, saat Bulan Puasa seperti ini, banyak oknum yang mengeruk untung dengan menjual daging yang sebenarnya tidak layak konsumsi.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Karanganyar, Muhammad Hatta, mengatakan, selama ini Disnakkan belum mendapatkan laporan adanya daging gelonggongan di Karanganyar. Kendati demikian, masyarakat diminta untuk waspada terhadap daging yang dijual di pasar. Bila warga mencurigai ada daging sapi yang lembek, terlihat basah dan warnanya tidak merah cerah, diimbau untuk melaporkannya ke Disnakkan. Selain itu, masyarakat juga harus mewaspadai daging yang dijual dengan cara digantung, tidak ditaruh di meja.

“Bila kadar keasaman (PH) berkisar antara 5-6, itu ideal. Namun bila lebih dari enam, kemungkinan ada indikasi daging itu semigelonggongan. Kami ada alat untuk mengukurnya,” ujar Hatta kepada wartawan di Kantor Disnakkan, Rabu (3/8/2011). Biasanya, Disnakkan diajak turut serta dalam operasi pasar bersama Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) ke sejumlah pasar. Namun ada atau tidak ada operasi pasar, Disnakkan akan menurunkan tim untuk memantau kondisi daging di pasar. Beberapa pasar yang menjadi target yakni Pasar Jungke, Karangpandan, Palur dan Nglano.

Menurut Hatta, pada tahun lalu di Pasar Karangpandan timnya menemukan daging sapi yang sudah busuk namun masih dijual. Karena itu, saat operasi itu, bukan hanya daging glonggongan yang menjadi perhatian, tapi juga daging sapi yang sudah membusuk dan bangkai ayam Tiren (mati kemarin).

“Untuk mengecek apakah daging sudah busuk atau tidak, kami menggunakan alat tes Duranti. Saat ditetesi Duranti warnanya jadi biru, maka dagingnya masih baik. Tapi bila berubah jadi hijau, artinya sudah busuk,” ujarnya. Namun pihaknya kesulitan untuk mengecek kondisi daging ayam. Sebab daging yang dijual di pasar saat ini banyak yang sudah dijual dalam kondisi sudah matang atau setidaknya sudah direbus.

Hatta menyatakan pula, daging gelonggongan di Karanganyar hampir tidak ada. Sebab sejak hewan dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH), sudah diawasi secara ketat baik siang maupun malam. Bila ditemukan daging gelonggongan, kemungkinan itu datang dari luar. Terlebih lagi, permintaan daging di Karanganyar masih sedikit bila dibandingkan dengan Kota Solo.

Sumber : http://www.solopos.com/2011/karanganya