Petani di Jaten panen padi tahan wereng

Sejumlah petani di Desa Jati, Kecamatan Jaten, memanen padi jenis Inpari-13 yang diklaim tahan wereng. Lahan sawah milik petani di desa tersebut sebelumnya dijadikan demonstration plot (Demplot) padi varietas tersebut.

Lahan yang digunakan Demplot seluas satu hektare (ha) dan menghasilkan 70,07 kuintal gabah. Petani pun mendapatkan untung sekira Rp 15-17 juta. Kepala Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (BP4K) Karanganyar, Supramnaryo, Kamis 21 juli 2011 mengatakan, modal yang digunakan untuk menanam padi itu, rata-rata Rp 9,950 juta.

Biaya tersebut antara lain untuk sewa tanah per musim (Rp 5 juta/ha), tenaga kerja (Rp 3,150 juta) dan sisanya untuk pembelian benih, pupuk, dan obat-obatan. Bila harga gabah satu kuintal dihargai sekira Rp 360.000 maka keuntungan yang didapat petani berkisar Rp 25,250 juta.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Rina Iriani SR, didampingi Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch, di sela-sela panen raya mengimbau agar petani merubah pola tanam menjadi padi-padi-palawija.

Meskipun hasil yang didapat cukup memuaskan, namun para petani di sana perlu mengantisipasi serangan wereng. Tidak menutup kemungkinan varian padi yang diagung-agungkan itu sudah tak tahan wereng lagi.

Untuk pengubah pola tanam, imbuh Bupati, maka Pemkab ke depan akan memberikan bantuan benih jagung kepada para petani. Namun bila petani masih membandel tetap menanam padi lalu terserang wereng, maka petani jangan mengeluh. Selain itu, ia juga meminta petani untuk beralih ke pertanian organic untuk mempertahankan kualitas tanah.