5 Kecamatan di Karanganyar rawan krisis air bersih

Memasuki musim kemarau tahun ini, ratusan warga di lima kecamatan di wilayah Bumi Intanpari rawan kekeringan dan kekurangan air bersih. Pemerintah kabupaten (Pemkab) bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mulai menyiapkan pengiriman air bersih.

Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Slamet Sanyoto mengatakan siap melakukan pengiriman air bersih. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi ancaman kekeringan dan adanya kesulitan air bersih di daerah rawan kekeringan. Meskipun demikian, hingga kini belum ada warga yang mengajukan bantuan air bersih. “Kami bekerja sama dengan PDAM akan melakukan pengiriman air bersih. Air bersih diberikan gratis,” tegasnya.

Berdasarkan data pengajuan permintaan bantuan air bersih tahun 2009, daerah-daerah rawan kekeringan dan kekurangan air bersih di Karanganyar tersebar di lima kecamatan yakni Matesih, Tasikmadu, Mojogedang, Jatipuro dan Gondangrejo. Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah langganan kekeringan setiap memasuki musim kemarau karena jauh dari sumber air.

Slamet Sanyoto menambahkan, daerah yang berada di perbukitan selama inimemang sulit air. Permintaan bantuan air biasanya mulai meningkat sekitar bulan Juli-Agustus yang merupakan puncak kekeringan. Kendati demikian, pihaknya tetap waspada terhadap kemungkinan adanya pergeseran masa kekeringan mengingat ada kecenderungan terjadi pergeseran musim dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, krisis air bakal terjadi karena matinya sumber-sumber air yang ada. Tidak hanya karena sumur gali yang kering, sumber air permukaan seperti sendang dan sungai juga kering.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar, Siti Maesyaroch meminta petani di daerah rawan kekeringan untuk lebih selektif dalam menentukan jenis tanaman. Dia menyebutkan lahan pertanian yang rawan kekeringan tersebar di empat kecamatan, di antaranya Kecamatan Jumapolo, Jumantono, Jatipuro dan Jatiyoso.
“Kalau memang pasokan air sangat terbatas, para petani sebaiknya tidak perlu memaksakan untuk tetap menanam padi, karena bisa-bisa nanti malah tidak bisa memanen,” pintanya.

Sebagai alternatifnya, Siti meminta para petani beralih ke tanaman palawija. Alasannya, tanaman ini tidak membutuhkan air yang terlalu banyak, seperti yang dibutuhkan tanaman padi. Selain itu, penggantian tanaman palawija sekaligus untuk memutus siklus wereng.