SE Pelarangan Berburu Burung Berlaku Minggu Depan

Surat Edaran (SE) Bupati tentang larangan berburu burung dan sarang semut rangrang mulai diberlakukan minggu depan. Tidak hanya SE, rencananya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) akan membuat Perda tentang pelarangan tersebut. Munculnya SE ini pun dikeluhkan sejumlah pencinta burung kicau.
Saat ditemui wartawan di rumah dinasnya, Selasa (26/4), Bupati Karanganyar Rina Iriani mengatakan, SE ini untuk mengantisipasi meledaknya populasi ulat bulu. Selain itu juga untuk memperbaiki ekosistem di Bumi Intanpari yang sudah mengalami kerusakan. “SE pelarangan akan kami edarkan mulai minggu depan. SE langsung kami berikan kepada camat-camat, kemudian dilanjutkan kepada warganya,” terang Rina, kemarin. Rina berharap dengan diedarkannya SE ini, dapat mennyetop populasi ulat bulu yang semakin tak terkendali.
“Coba lihat di sekitar Karanganyar jarang sekali ada burung beterbangan, selain itu, pohon-pohon juga tidak ada semut rangrang. Itulah yang membuat ulat bulu membludak, karena musuhnya sudah tidak ada,” katanya. Pelarangan ini tidak hanya untuk burung kicauan atau predator saja, melainkan semua jenis burung.
“Baik itu menggunakan senapan, ketapel, jaring maupun pulut tetap tidak diperbolehkan, dan ini berlaku untuk perburuan semua jenis burung di Karanganyar,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Tanaman Pangan dan Kehutanan (Distanbunhut) Karanganyar Siti Maesyaroch meminta, kepada warga agar tidak panik. Karena meledaknya populasi ulat bulu ini merupakan siklus tiga tahunan.
Munculnya SE ini dikeluhkan oleh Pendek (27) salah seorang pencinta burung kicau. Pasalnya, selama ini burungnya selalu diberi makan kroto. Sehingga dengan beredarnya SE ini, dirinya bersiap-siap mencari alternatif makanan lainnya. “Saya harap ini hanya imbauan, kalau benar dilarang saya harus mencari alternatif makanan lain dan bisa jadi harganya akan lebih mahal.