Minim Fasilitas, Gunung Bromo Sepi Pengunjung

Minimnya fasilitas yang disediakan membuat Wana Wisata Gunung Bromo, Karanganyar mulai sepi pengunjung. Rencananya, setelah masa transisi antara pengelola Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) kepada Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Surakarta selesai, Wana Wisata itu akan dibuat menjadi taman outbond dan Hutan Pintar.
Menurut Joko Sarono selaku petugas jaga Wana Wisata, sejak tahun 2000-an jumlah pengunjung terus mengalami penurunan. Terlebih setelah sejumlah fasilitas yang disediakan seperti shelter, toilet, ayunan rusak dan tidak dirawat. Meski setiap hari masih ada satu hingga dua pengunjung, tetapi Joko mengatakan pernah juga tidak ada seorang pengunjung pun.
“Untuk tahun 2010 jumlah pengunjung hanya sebanyak 1.600 orang/tahun, sangat kurang jika dibandingkan jumlah pengunjung pada tahun 2006/2007 yang bisa mencapai 3.000 orang/tahun,” terang Joko kepada wartawan, Selasa (5/4), kemarin. Kondisi ini semakin diperparah dengan banyaknya tempat-tempat wisata baru yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan Wana Wisata.
‘’Paling cuma orang pacaran yang berkunjung di Wana Wisata ini,” celetuknya. Selain minimnya fasilitas, tidak terurusnya Wana Wisata ini juga dipengaruhi oleh transisi pengelolaan. Sejak awal berdirinya Wana ini dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Perhutani, sedangkan saat ini akan diserahkan kepada Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Surakarta.
“Untuk pengambilalihan pengelolaan sudah dibicarakan, tetapi kami belum menerima surat resmi terkait pemindahan pengelolaan tersebut,” terangnya. Jika sudah resmi dipindah pengelolaannya, sambung Joko, rencananya Wana Wisata akan dikembangkan lagi untuk menarik minat para pengunjung. “Sesuai dengan potensi yang dimiliki, rencananya akan dikembangkan sebagai wahana outbond dan juga hutan pintar,” tandasnya.
Karena, dulu di Wana terdapat sejumlah fasilitas yang menarik, seperti ayunan, shelter dll. Tetapi saat ini sudah rusak dan tidak ada perawatan yang berarti. Selain adanya sejumlah fasilitas yang rusak, kendala yang membuat hutan wisata seluas 126 hektare itu tidak diminati yakni banyaknya nyamuk, serta jalanan yang sudah mulai rusak. Sehingga saat pengunjung hendak mengelilingi hutan harus ekstra hati-hati jika tidak ingin terpeleset.