Tanam Rp 30 Juta, Panen Rp 114 Juta

Para petani cabai di Karanganyar meraup keuntungan empat kali lipat dalam panen kali ini. Saat menanam cabai dulu, mereka hanya bermodal Rp 30 juta.

Kini, cabai hasil panen bisa dijual Rp 114 juta per hektare. ”Meski cuaca ekstrem, kami tidak terganggu. Buktinya, hasil panen ini bagus-bagus,” kata Tri Wirdaningsih, salah seorang petani di Karangpandan, Kamis (3/3). Menurut dia, masa tunggu panen cabai membutuhkan waktu antara tiga setengah bulan hingga empat bulan.

”Masa panen tidak bisa satu hari penuh. Untuk memanen cabai butuh waktu satu setengah bulan,” ujarnya. Kebetulan, saat panen tersebut, dia mendapat kunjungan dari Bupati Rina Iriani dan Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Tanaman Pangan dan Kehutanan (Distanbunhut) Siti Mesyaroch, berserta jajarannya. Dia mengatakan, distribusi cabai jenis TM 88 tersebut belum sampai ke luar kota.

”Paling-paling hanya pasar lokal dan Solo saja. Bahkan mereka kulakan cabai di sawah. Bukan petani yang menyalurkan ke pasar-pasar,” tandasnya. Ekspor Bupati Rina menarget, dalam beberapa tahun ke depan Karanganyar sudah bisa mengekspor cabai ke luar negeri. ”Peluang ini harus ditangkap petanik. Cabai itu komoditas yang selalu dicari, bahkan di pasaran dunia. Jadi kami dorong petani untuk menanam. Kami target ke depan bisa distribusi ke luar negeri,” ujar Rina.

Pihaknya akan menjadikan Kecamatan Karangpandan sebagai sentra cabai. Mengingat, hasil pertanian Karangpandan adalah nomor satu dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan yang lain.

”Kami akan menjadikannya sentra cabai, baik besar maupun rawit,” tandasnya.

Saat ini tanaman cabai di Bumi Intanpari ini mencapai luasan sekitar 50 hektare yang tersebar di beberapa kecamatan seperti Tawangmangu, Mojogedang, Karangpandan, dan Kerjo. ”Namun, yang lebih cocok untuk cabai memang Karangpandan”.