Srimpi Irim-irim, Pertaruhan Harga Diri Wanita

Ada yang beda di pendapa SMKN 8 Surakarta pada Rabu (26/1) malam, pekan kemarin. Sayup-sayup terdengar lantunan tembang dan iringan irama karawitan dengan cengkok yang lain dari biasanya. Maklum saja, malam itu dalam acara rutin Nemlikuran, SMKN 8 memang sengaja mengundang para mahasiswa jurusan Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk membawakan beragam tarian tradisi khas Yogyakarta.
Ketika dihubungi di sela-sela pementasan mahasiswanya, Ni Nyoman Seriati, Ketua Jurusan Pendidikan Seni Tari UNY menjelaskan, suguhan beragam tari tradisi itu karena para penarinya adalah calon guru tari yang dituntut untuk memahami pedoman dasar tari itu sendiri. Selain itu juga untuk memperkenalkan kembali tarian klasik khas Yogyakarta yang selama ini sudah jarang dipertunjukkan. “Karena penarinya adalah calon guru tari bukan seniman tari, maka dasar tari tradisi itu wajib mereka kuasai. Salah satunya melalui pementasan kali ini,” paparnya.
Seperti Tari Srimpi Irim-irim yang menjadi tarian pembuka. Tari klasik yang berpijak pada mitologi menak (bangsawan—red) tersebut dibawakan empat penari yaitu Supriyatun, Desilia, Eka Septiapti, dan Inggrid Fernandez. Dalam balutan kostum berwarna hitam, keempat penari itu terlihat anggun dalam membawakan tarian. Namun kadang kala keanggunan itu berubah menjadi sebuah bentuk ketegasan, ketika iringan karawitan ditabuh sedikit kencang dan ditimpali suara genderang dan lengkingan terompet keprajuritan.
Srimpi Irim-irim sendiri sebenarnya merupakan sebuah bentuk penggambaran mengenai pertaruhan harga diri senopati wanita dalam kisah asmara Prabu Bonakamsi. Kisah itu dimulai ketika Prabu Bonakamsi menjadi tidak lagi tenang hidupnya karena terjerat pesona Dyah Marpinjun, putri jelita dari Kerajaan Medayin. Sayangnya gayung tak bersambut, pinangan Bonakamsi ditolak mentah-mentah oleh Marpinjun.
Merasa diremehkan, Bonakamsi pun naik pitam. Kemudian diutuslah adiknya, Dewi Banowati untuk meringkus sang putri Medayin. Meski sebenarnya dalam hati menolak karena paham bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, namun demi membela kehormatan kakaknya, Banowati pun berangkat dengan penuh semangat untuk membawa Dyah Marpinjun untuk dipersembahkan kepada Bonakamsi.
Siasat Bonakamsi ini pun terdengar hingga ke telinga Tiyang Agung, sang penguasa Medayin. Akhirnya untuk mengimbangi sepak terjang Banowati yang terkenal sebagai senopati wanita pilih tanding, diutuslah Dewi Kuraisin untuk mencegah Banowati merebut Dyah Marpinjun. Duel hebat pun tak terhindarkan dari kedua senopati wanita tersebut. Karena sama-sama sakti dan pantang mundur, maka tidak ada yang keluar menjadi pemenang. Hingga akhirnya Raden Jayengrana pun mendamaikan keduanya dan mengambilnya sebagai istri.
Selain Srimpi Irim-irim, pertunjukkan malam itu juga turut diisi dengan tarian yang semua bergaya Yogyakarta yaitu Menak Rengganis Widaninggar, Anggada-Antareja, dan satu tarian sakral karya Sri Paku Alam II yaitu Beksan Bandabaya.